Hanya Embun di Pagi Buta

Malam ini memori liarku tentang teman bangkit menyakit. Hampa sudah berlalu, teman yang palsu menutup mata di balik wajah. Sesekali biarlah mereka senang meneguk air embun di setiap dahan yang rindang, segar sekali. Ini rahasia, jangan kau ceritakan pada angin jikalau tanganku ini dahan, tapi kau masih memalingkan, rindangku juga berarti pengetahuan, menyegarkan bukan? Menarilah, selagi masih dalam naungan daripada kerindangan itu kau muram. Sesekali tanyalah, apa budimu? Masih saja memelas sejak kebodohan menamparmu dan berbalik menamparku. Sejak saat itu kau mematahkan dahanku, tanganku. Membakarnya, mengencinginya. Sialan.. Sialan... Teman.