Secangkir Kopi


Berdiri di sudut kota yang katanya penuh romantisme, aku menikmati setiap udara yang mondar-mandir di hidungku sambil melamun memikirkan sebuah karya besar ilahi. Karya yang hanya kunikmati sebentar saja.
Waktu tak bisa disalahkan dan aku pun tak bisa menyahkan siapa-siapa. Nyatanya karya itu memang hanya sementara, bagaikan secangkir kopi hangat di kedai kopi Jogja. Keindahannya hanya antara tiap tegukan, tapi aromanya melekat sampai kerongkongan. Sayangnya, waktu telah meluruh dengan waktu paruh sepersekian detik, larut sehabis-habisnya— waktu memang amat terbatas. Tapi ya itulah karya besar-Nya, karya yang hanya kunikmati sementara, keindahannya, kesuciannya. 
Bagaimana menurutmu jika karya tuhan itu ada dalam wujud nyatamu? Hey, Dirimulah sebenar-benarnya karya besar Tuhan itu. Aku bersyukur diberi kesempatan tuk mengenal dirimu walaupun hanya berjangka helaan nafas, bahkan ketika pertemuan kita belum dimulai sekalipun. 
Demi gunung yang pernah kita daki bersama, waktu kita amatlah singkat tapi kebersamaan yang telah kita bangun amatlah erat, seerat tanganku menggenggammu kala itu, pun ketika harus kehilanganmu, aku masih menggenggam jejakmu. Pada akhirnya memang benar,
Dunia itu fana
Kita yang abadi
Di keabadian yang berbeda.