Puisi - Perjalanan


Perjalanan

Awan kumulonimbus nampaknya telah mengakrabkan diri dengan temaram senja.
Lihat saja, hampir-hampir sepanjang penghabisan siang, hanya ada nimbus di sisi-sisi langit.
Rupanya telah tiba saatnya, periode bulan menangis.
Kemudian aku tanyakan pada langit, kiranya mendung mana yang akan jadi gilirannya?

Lalu kilat menyahut lantang diiringi nyanyian alam malakut.
Sontak seperti ingin berkata kalau kalau tempat ini badai lari lah ke mana mata angin melaju. 
Di sana ada taman, senja jadi teman, malam tak pernah kelam.
Hujan pun turun, badai kemudian.
Tak dikira begitu keras,  menghujam 5 detak di atas saraf, mati rasa.

Hampir - hampir hilang rasanya menjadi manusia.
Alih-alih melawan takdir, malah terhanyut dalam dalam.
Lewat sudah masa, hanyut biarlah. 
Barangkali esok tersangkut ranting rimba, atau malah sampai di muaranya.
Itulah kehidupan yang kedua.

Nararya
Januari 2020