Cerpen : Shanti - Si Bunga Tidur

By : Nararya

Gambar dari id.pinterest.com

Rama Bimayana, begitulah nama yang diberikan kedua orang tuaku. Mereka berharap agar aku kelak menjadi pria yang gagah, kuat, dan berani ketika dewasa nanti dan mendapat pasangan yang berparas cantik seperti Rama & Shinta dalam kisah Ramayana. Dikisahkan Sri Rama mendapat pasangan hidup yang luar biasa cantiknya bernama Dewi Shinta. Konon menurut cerita pewayangan cantiknya bak seorang peri kahyangan.

Ketika aku memasuki jenjang SMA, aku mulai belajar sebagaimana menjadi pria dewasa dengan mengemban amanah dan bertanggung jawab atasnya. Singkat cerita, aku dipercaya menjadi ketua OSIS dan didampingi oleh wakil-wakil yang cantik bernama Shanti dan Wulan. Mereka selalu ada ketika aku membutuhkan. Sungguh luar biasa, andai kumiliki salah satunya, khayalku.

“Hey Rama!” saut Shanti seraya senyum kepadaku.

“iyaa ada apa Shan?” balasku.

“Kamu sibuk ngga hari ini? Kita pergi ke mall yuk!” pinta Shanti.

“Hah? Hehe ngga lah aku ngga sibuk, kapan nih?” jawabku.

“Oke, pulang sekolah aja deh abis sholat, Aku tunggu di gerbang yah?” jawab Shanti kemudian ia pergi ke kelasnya.

Hatiku mendadak seperti melayang-layang di angkasa, tak menyangka akan kejadian hari ini sampai-sampai aku ditegur Pak Jana, guruku di mata pelajaran sosiologi.

“huayoo mikir apaan nih? Awas setan lewat hahaha,” ledek Pak Janu.

“ee.. eem.. eng.. enggak pak ini ini.. Cuma..” Jawabku gagu.

“hais  udah-udahh, noh jam istirahat udah abis, ayok masuk kelas!” tutup Pak Janu.

Setelah bel pulang terdengar, aku langsung pergi dari kelas tanpa piket dulu. “aahh biarlah palingan juga yang lain ngga piket, masa aku doang” Bisik dalam hati. Aku langsung melepas sepatu dan mengambil air wudhu di musholah, tapi tak disangka Shanti sedang wudhu juga.

“hey Ram jadi imam gih entar Aku yang makmum,” pinta Shanti.

“Ha? eh iya iya Shan...” jawabku malu.

Keringat dingin tiba-tiba mengucur di dahi yang sesekali menetes ketika berubah ke posisi rukuk. Bagaimana tidak, Shanti yang aku suka jadi makmum di belakangku. “Bener ngga ini Ya Allah? Semoga kelak dia jadi istriku, hehehe.” Pikiranku tak bisa diam yang parahnya membuat sholatku tidak khusyuk.

“Shanti, yukk kita pergi!”

Lalu bergesas aku pergi bersama Shanti. Aku salah tingkah di sepanjang perjalanan berdua ke mall. Karena mallnya cukup dekat dari sekolah kami, jadi kami memutuskan untuk jalan kaki, beruntung banget cuaca ketika itu sangat mendukung. Gugup itu yang aku rasakan di sepanjang jalan. Sesekali kupandangi dia, sungguh luar biasa ciptaan Tuhanku ini. Jilbab yang terurai menutupi rambut sampai dada menambah kekagumanku padanya.

“Ram kenapa lirik-lirik? Hehe,” tanya Shanti.

“Eh engga kok hehe, cuma liatin doang. Kamu cantik pakai jilbab itu” jawabku, lalu ia hanya tersenyum.

Hampir saja ketahuan oleh dia. Entah mengapa aku sangat nyaman di sampingnya.

“Apa ini cinta?”

Setelah puas jalan berdua dan nonton film kesukaan dia di XXI, kami memutuskan pulang naik angkot. Entah hanya sekedar kebetulan atau apa, aku dan dia pulang searah. Jadi, kami pulang bersama.

“Rama, Aku pulang duluan yah hati-hati di jalan,” Shanti sambil tersenyum manis ke arahku.

Ah, hari ini sungguh ajaib.

Keesokan harinya aku bertemu dia di kantin sekolah. Sepertinya dia sedang memesan sesuatu di warung Bu Rumijo.

“hay shanti cantik,” kataku dengan percaya diri.

 Aku keceplosan, takut dia tidak nyaman atas perlakuan ku yang kurang ajar seperti itu. Tapi sungguh mengejutkan, alih-alih marah dia malah tersipu malu.

“Ah leganya.”  

Rupanya seperti dalam kisah ramayana, ada seseorang yang sangat menyukai Shanti. Di awal aku menyadari kalau aku mencintainya, aku sudah memutuskan untuk menerima apapun risikonya. Dia adalah Rahwaji, biasa dipanggil Aji. Salah seorang senior ekskul silat dan putra kedua kepala sekolah kami. Jujur aku takut terjadi hal-hal yang buruk, tapi karena cintaku yang teramat dalam pada Shanti, aku memberanikan diri.

“Shan, pulang sekolah, kamu sibuk ngga? Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” kataku.

“Hem boleh deh, kayaknya penting banget ya” jawab Shanti.

Ketika bel telah berbunyi, aku pergi ke kelas shanti.

“hay Shan!” sautku.

Lalu aku mengajaknya pergi ke aula sekolah, karena di sana sepi hanya ada Pak Mul yang sedang membersihkan lantai dari sisa kotoran acara lomba masak tempo hari.

“Shan, Aku mau jujur kalau aku cinta sama kamu, kamu mau ngga jadi pacarku?” pintaku.

Shanti tertegun beberapa saat “hah?? hem. Tapi aku juga gitu kok Ram, aku juga cinta sama kamu, tapi...,” Dengan nada lirih menandakan Shanti takut akan sesuatu. “Apa karna Aji itu? Udahlah jangan takut, mau kan?” kataku. “iya mau Ram” jawab Shanti sambil tersenyum ke araku. Aku benar-benar tak menyangka akan hal luar biasa ini.

            Tiba-tiba dari arah pintu aula datanglah Rahwaji. Ternyata dia mengikuti dan mengitip percakapan kami. Dari raut wajahnya, dia seperti kaget dan marah. Lalu dia menghampiriku dan Shanti dengan gestur khas jagoan. Gemetarlah seluruh badanku, mungkin dia akan menghajarku habis-habisan. Benar saja, dia mengajak ku bertanding silat. Aku ragu, tapi untuk Shanti aku rela menerimanya, meski bonyok setidaknya aku sudah berjuang.

“Heh sini kamu! Udah siap?” katanya.

Lalu aku dan dia bertanding di depan Shanti. Dia memang pesilat hebat, dua kali pukulan tepat mengenai gigiku, satu pukulannya juga mengenai mata kananku. Bonyok! Dengan muka bonyok dan hampir kalah, dari pinggir arena senyum terlukis di wajah Shanti dan aku seketika bangkit menghajar Rahwaji sampai dia pingsan. Aku mendapat celah untuk menghajar pelipisnya, seketika dia ambruk. Tapi selang beberapa detik aku pun pingsan karena kehabisan tenaga.

Tiba-tiba terdengar suara yang sangat mengganggu, suara khas yang aku benci di pagi hari. “Hey rama bangun! udah jam 6 pagi, kamu belum mandi, belum sarapan, mau sekolah jam berapa?” Aku pun terjaga dengan muka kesal dan seketika tersadar kalau semua itu hanya mimpi.